JaranTamasa011_040

ReadAboutContentsVersionsHelp
26

26

Tiadakah kasihan tuan akan kekanda // Kakak nan sudah terkena goda

Renjaka pun belas rasa hatinya // Menengar kata melihat lakunya Ia menangis seraya berkatanya // Aduh tuanku gila rupanya

Tiadakah malu tuan manira // Jadi wilangon(1) hilang bicara Tuan nan orang muda perwira // Tiada semena menaruh lara

Sediakala pemandangan kula // Tuan juga yang perempuan [?perempunya] gila Sekarang ini berbalik pula // Tuan gila tiada berpahala

Sehari-hari pemandang [memandang?] manira // Teman tuan berjalan ke pasara(2) Segala perempuan gila asmara // Jadi wilangon menaruh lara

Banyak perempuan yang keedanan // Berahikan tuan terangan-angan Tuan juga tiada berkenan // Sekarang berbalik pula sunan

Tuan gila latahkan (3) orang // Tiadakah malu tuan sekarang Janganlah tuan berhati walang // Tuan sabarkan dahulu sekarang

Dibawa gundah tiada berketahuan // Tuan tahan hati yang rawan Jika sudah akan untung tuan // Sahaja bertemu lambat laun

Last edit 5 months ago by Mulaika
27

27

Jangan tuan menaruh walang // Tuan fikirkan juga sekarang Apa sudahnya berahi seorang // Tiada semena nyawa terbuang

Apa faedahnya menaruh duka // Orang diberahi itu adakah suka Telah mendengar kata Renjaka // Kepada hatinya benar juga

Sungguh segala kata diri // Semenalah aku gila sendiri Mabuk berahi tiada berperi // Orang tiada khabar akan diri

Berkenanlah ia atau tiada // Kerana ia hendak dikasihi baginda Kuhilanglah gundah di dalam dada // Itupun berahiku tiada rada(1) [reda?]

Tiada lupa daripada hatinya // Akan rupa yang diberahikannya Makin bertambah juga dukanya // Sebab tak boleh sekehendaknya

Terlalai seketika Jaran Temasa // Bermimpi akan Ken Lamlam Arsa Duduk di ribaan kanda rasa // Bergurau bersenda berbagai bahasa

Terkejut ia daripada tidurnya // Dilihat tak sungguh seperti mimpinya Hancur luluh rasa[nya?] hatinya // Air mata mengalir basah bantalnya

Bulan terbit aram temaram // Disaput awan warnanya suram

.... seperti muka

Last edit 5 months ago by Mulaika
28

28

Seperti muka orang yang menahan dendam // Berahinya tiada kala akan padam

Berkapar luruh bunga cempaka // Seperti belas akan orang yang duka Melampailah taruk angsoka(1) // Layu seperti warna muka

Nagasari pun diserang kumbang // Merdu bunyinya tiada kepalang Seperti suara laki melambang // Membujuk istrinya paras gemilang

Pandan baharu hendak kembang // Terlalu indah kepada pemandang Seperti betis perempuan paras gemilang // Sedang berjuntai manis dipandang

Gundah rasa hati Jaran Tamasa // Segala yang dipandangnya Ken Lamlam Arsa Taruk mandalika(2) membelit rajasa // Seperti tangan lagi kanda rasa

Memeluk pinggang yang diberahikan // Demikianlah kepada perasaan Ayam berkokok bersahut-sahutan // Merak berbunyi di pohon rambutan

Seperti orang mengatakan berahinya // Tiada sampai seperti kehendaknya Disampaikan dewata seperti maksudnya // Menyampaikan kehendak di dalam citanya

Telah siang sudahlah pagi // Gundah hatinya tiada terperi Mengeluh mengucap seorang diri // Pemelayan(3) juga disuruh cahari

Last edit 5 months ago by Mulaika
29

29

Tiadalah bertemu dengan Renjaka] // Makin sangat hatinya duka Apa gerangan mala petaka // Tiada sekali berhati suka

Adalah kadar berapa hari // Jaran Tamasa menahan berahi Pucat kurus dengan diri // Berfikirlah ia sendiri diri

Apa gerangan kesudahan aku // Jika tak boleh seperti kehendakku Sahaja matilah gerangan aku // Belas pula akan diriku

Matilah dengan seorang diri // Tiada bertemu dengan yang kuberahi Jika sepuluh kali ku mati // Lamun di hadapannya puaslah hati

Tambahan pula ditangisinya aku // Air matanya yang lekat pada hatiku Itulah dikenang jadi bekalku // Mati di hadapan utama jiwaku

Makin dikenang belas rasanya // Tiadalah berketahuan di dalam hatinya memenjarakan [?] perihal dirinya // Mendapatkan orang yang diberahinya

Bagaimana gerangan akan daya ku // Akan bertemu dengan jiwaku Tiadalah terbicara rasa hatiku // Tampaknya suka pada suatu [suku?]

Daripada hidup demikian laku // Tiada mengambil nama ayah bondaku

...daripada celaka

Last edit 5 months ago by Mulaika
30

30

Daripada celaka ibu bapaku // tiada beruntung beranakkan aku

Baiklah jangan dijadi manusia // Diperanakkan ibu jadi sia-sia Tiada mengambil akan nama yang mulia // Kehendak Dewata Mulia Raya

Lalu cucur air matanya // Oleh terkenang akan untungnya Renjaka pun belas melihat lakunya // Seraya bujuk berbagai katanya

Mengapa tuanku menangis ini // Apatah sudahnya gerangan begini baik juga tuan tahani // Dibawa bermain ke sana sini

Berjalan-jalan supaya suka // Kalau hilang hati yang duka Tuan lipur-lipurkan juga // Kalau menjadi mala petaka

Sebaiknya tuan muda teruna // Paras seperti Sang Ra(n)juna Gilalah tuan tiada semena // Membawakan hanya kepada kelana

Tiada tidur makan dan minum // Layu seperti bunga yang ranum Tuan nan perwira bagus anum // Segaklah gerangan manis senyum

Sungguhpun tuan anak penggawa // Sikap seperti dewa dewa Di dalam lurah Tanah Jawa // Pada hati beta tiadalah dua

Last edit 5 months ago by Mulaika
Records 26 – 30 of 61